CARA MUDAH DAN MURAH
MEMBUAT BRIKET ARANG SEKAM
(Sumber Energi Alternatif dalam Rumah Tangga Petani)
Darmatasiah, SPKP
Penyuluh Desa Makmur Jaya Kecamatan Betara Kab. Tanjung Jabung Barat
(THL-TB Penyuluh Pertanian Angkatan I)
INTISARI
Briket yang terbuat dari arang sekam bukan sesuatu hal yang
baru, karena mulai diusahakan secara komersil, terutama di Pulau Jawa
yang memiliki tingkat produksi padi yang tinggi. Bahkan tehnik
pembuatannya dapat dipelajari dengan mudah melalui buku maupun melalui
internet. Namun tehnik pembakaran sekam menjadi arang masih menggunakan
alat yang mempersulit keluarga petani untuk melaksanakannya, karena
waktu, tenaga dan biaya yang terbatas.
Arang sekam adalah sekam padi yang telah melalui proses
pembakaran tidak sempurna sehingga tidak sampai menjadi abu.
Selanjutnya arang sekam tersebut dicampur dengan perekat , dipadatkan
dan dikeringkan dan disebut sebagai briket. Dalam proses pembuatan
arang sekam ini ada dua macam tehnik yaitu dengan menggunakan alat
pembakar dan tanpa alat pembakar. Agar lebih praktis dan membutuhkan
sedikit tenaga sebaiknya membuat arang sekam tanpa menggunakan alat.
Dalam pembuatan briket bisa menggunakan perekat dari tepung
kanji atau menggunakan tanah liat. Bila menggunakan tanah liat, maka
tidak perlu menambah biaya karena tanah liat banyak tersedia. Sebelum
briket dibuat sebaiknya arang sekam terlebih dahulu dihaluskan atau
ditumbuk, karena akan mempengaruhi kepadatan briket dan panas yang akan
dihasilkan. Briket arang sekam bisa menjadi energi alternatif dalam
rumah tangga.
Dengan dimanfaatkannya sekam padi ini menjadi briket arang
sekam, maka akan mengurangi limbah hasil pertanian, menambah pendapatan
petani dan mengurangi pengeluaran keluarga untuk membeli bahan bakar.
Kata kunci : Sekam padi, arang sekam, briket, energi alternatif.
I. PENDAHULUAN
Limbah sering diartikan sebagai bahan buangan atau bahan sisa dari
proses pengolahan hasil pertanian. Proses penghancuran limbah secara
alami berlangsung lambat , sehingga limbah tidak hanya mengganggu
lingkungan sekitarnya tetapi juga mengganggu kesehatan manusia. Pada
proses penggilingan padi, sekam akan terpisah dari butir beras dan
menjadi bahan sisa atau limbah penggilingan. Kadar sekam adalah 20 - 30%
dari bobot gabah yang digiling, dedak 8-12 %, dan beras giling
50-53,5 %. Jadi semakin tinggi produksi padi maka semakin banyak sekam
padi yang akan dihasilkan. Dan tentunya ini juga merupakan suatu
permasalahan yang harus dicarikan jalan keluarnya.
Pada setiap penggilingan padi akan selalu kita lihat tumpukan bahkan
gunungan sekam yang semakin lama semakin tinggi. Saat ini pemanfaatan
sekam padi tersebut masih sangat sedikit. Hanya sebagian kecil sekam
yang telah dimanfaatkan antara lain untuk membakar bata merah, alas
kandang ayam, abu gosok, membuat tungku, dll. Sekam dapat dimanfaatkan
untuk berbagai bahan baku indutri kimia, isolasi, filteraid, sebagai
pemucat minyak kelapa, minyak wijen, dan minyak kelapa sawit. Namun
pemanfatannya masih terkendala pengangkutan, mutu sekam dan harga.
Menurut P. Suharno (1979) dalam Winarno F.G. et al:, 1985), komposisi
sekam sebagai berikut, Kadar Air 9,020 %, Protein Kasar 3,027 %,
Lemak 1,180 %, Serat Kasar 35,680 %, Abu 17,710 %, Karbohidrat kasar
33,710 %.
Sedangkan sifat-sifat fisik dari sekam , menurut Van Ruiten (1981) dalam Winarno F.G. et al:, 1985, adalah :
- Prosentase sekam 14 – 26 % dari berat gabah (tergantung dari varietas padi)
- Kerapatan jenis bulk density 125 kg/m3
- Nilai kalori 1 kg sekam = 1.300 kkal
- Persentase abu 20 % berat pada pembakaran sempurna
- Kandungan air 10 %
Pada umumnya petani belum memperlakukan sekam padi sebagai bahan yang
bermanfaat, padahal apabila diolah dengan teknologi yang sederhana,
sekam memiliki banyak sekali manfaat. Petani tidak menyadari bahwa
semakin tinggi produksi di lahan pertaniannya maka limbahnya semakin
banyak, karena 20 – 30 % dari hasil panen tersebut adalah berbentuk
sekam. Apalagi saat ini tehnologi untuk meningkatkan produksi padi
terus dikembangkan, salah satunya adalah tehnik budidaya dengan sistem
jajar legowo.
Disisi lain banyak rumah tangga menengah kebawah yang masih menggunakan
gas, minyak tanah, kayu bakar dan arang kayu bakar. Untuk gas, masih
banyak rumah tangga yang takut menggunakannya karena seringnya mendengar
tentang tabung gas yang meledak, untuk tetap menggunakan minyak tanah
pun menjadi sulit karena tingginya harga minyak tanah. Untuk rumah
tangga yang ada di perkampungan mungkin masih bisa memanfaatkan kayu
bakar atau arang kayu, akan tetapi jumlah kayu pun semakin menyusut
sehingga harus ada alternatif bahan bakar lain yang mudah didapat, aman
digunakan dan harganya murah. Oleh karena itu tentunya dengan
memanfaatkan sekam bakar ini menjadi briket arang sekam akan dapat
menyelesaikan beberapa permasalahan sekaligus. Sekam padi yang
jumlahnya semakin meningkat seiring meningkatnya produksi padi tidak
akan menjadi limbah yang tidak bermanfaat, dan mengganggu lingkungan.
Permasalahan bahan bakar di tingkat rumah tangga kecil pun dapat
terselesaikan, karena mereka tak perlu lagi khawatir akan tabung gas
yang meledak, harga minyak tanah yang mahal atau kayu yang semakin
sedikit. Bahkan, keluarga petani dapat membuat sendiri bahan bakar
alternatif ini sehingga dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga petani
dan dapat menambah pendapatan mereka dengan menjual briket arang sekam
tersebut.
Dengan proses yang sederhana, tanpa membutuhkan alat yang canggih dan
bahan baku yang melimpah, keluarga petani dapat membuat sendiri briket
arang sekam. Sehingga sekam yang selama ini kurang bermanfaat dapat
menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai jual yang dapat
meningkatkan pendapatan petani.
II. METODOLOGI
Untuk memafaatkan sekam menjadi bahan bakar pengganti
minyak tanah, gas atau arang kayu, sekam harus diproses dulu menjadi
arang sekam. Proses pembuatan arang sekam cukup sederhana dan dapat
dikerjakan sendiri oleh petani dan keluarganya tanpa membutuhkan
peralatan khusus dan tidak membutuhkan banyak tenaga.
Dalam proses pembuatan arang sekam ada dua macam tehnik
yaitu dengan menggunakan alat pembakar atau tanpa menggunakan alat
pembakar. Dari kedua cara berikut petani dapat memilih cara yang praktis
untuk dilakukan Berikut cara pembuatan arang sekam dengan tehnik yang
berbeda :
a. Proses pembuatan arang sekam dengan menggunakan alat pembakar
Alat dan bahan :
-
cerobong besi sepanjang 1 meter
-
gembor untuk menyiram
-
sekam padi
-
kayu bakar
Cara kerja:
-
Bakar terlebih dahulu kayu api sampai menjadi bara
-
Tutup bara dengan cerobong besi yang telah disediakan
-
Setelah cerobong panas, taburkan sekam disekeliling cerobong, biarkan
sekam sampai menjadi arang, kemudian tarik menjauh dari cerobong
-
Timbunkan kembali sekam baru kesekeliling cerobong, lakukan terus sampai semua sekam habis.
-
Siram sekam yang telah menjadi arang sampai benar-benar dingin agar tidak menjadi abu.
Gambar 3. Membakar sekam dengan menggunakan alat pembakar
b. Proses pembuatan arang sekam tanpa menggunakan alat pembakar
Bahan dan Alat :
1. Sekam Padi 100 kg (20 karung besar)
2. Gembor untuk menyiram
3. Sabut atau tempurung kelapa
4. Minyak tanah
5. Air untu menyiram bara sekam
Cara Kerja :
1. Tumpuk sekam padi sebanyak 2 karung besar untuk setiap
tumpukanBakar bagian puncak tumpukan dengan menggunakan sabut kelapa
yang sudah ditambah sedikit minyak tanah
-
Api yang dihidupkan akan membakar sekam sekelilingnya hingga menjadi bara,
meskipun apinya mati, baranya akan tetap hidup dan membakar sekam yang lain,
proses pembakaran ini akan memakan waktu kurang lebih 12 jam
-
Setelah semua sekam menjadi arang, siram segera dengan air agar tak menjadi abu.
Proses pembuatan briket arang sekam
Briket adalah hasil pemadatan arang sekam yang dicampur
dengan perekat. Tujuan dari pemadatan ini adalah agar bara yang
terbentuk lebih tahan lama dan suhu panas yang dihasilkan lebih tinggi,
tidak menghasilkan asap.
Langkah kerja dalam proses pembuatan briket arang sekam adalah :
1. Tumbuk arang dengan menggunakan lesung sehingga dihasilkan tepung arang sekam
2. Siapkan bahan perekat berupa tanah liat yang telah dicairkan dengan air dengan perbandingan 5 : 1 (tanah liat :air)
3. Campurkan bahan perekat kedalam tepung arang sekam dengan
perbandingan 6 bagian sekam dan 1 bagian perekat, aduk sampai rata.
4. Cetak adonan dengan menggunakan bambu atau paralon yang telah dipotong-potong dengan panjang 5 cm dan diameter 1 inchi.
5. Jemur briket yang sudah dicetak sampai benar-benar kering (lama penjemuran tergantung cuaca)
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan di lapangan tehnik pengarangan tanpa
menggunakan cerobong besi lebih mudah dikerjakan petani. Hal ini
dikarenakan petani tidak perlu menunggu dalam proses pengarangan. Pada
proses pengarangan yang ditumpuk, cukup hidupkan api diatas tumpukan dan
biarkan sekam terbakar habis menjadi arang. Apabila menggunakan
cerobong besi sekam harus terus dijaga agar tidak menjadi abu dan harus
mengganti sekam yang telah menjadi arang dengan sekam baru, sehingga
lebih menyita waktu. Yang sama dari kedua tehnik ini adalah sama-sama
harus disiram dengan air, agar arang tak menjadi abu. Dan pada saat
penyiraman harus dipastikan bahwa arang sekam benar-benar telah mati.
Proses pengarangan tanpa alat sebaiknya dilakukan pada jam 5
sore untuk menghindari gangguan ternak. Karena proses pengarangan
membutuhkan waktu kurang lebih 12 jam, sehingga keesokkan harinya sekam
telah menjadi arang. Jadi tidak perlu ditunggu atau diaduk berkali-kali.
Sekam hanya perlu diaduk sekali untuk meratakan sekam agar terbakar
semua. Sehingga tidak membutuhkan banyak tenaga. Apabila pada saat
pembakaran sekam terjadi hujan sekam tidak akan mati, sekam yang berada
di bagian dalam akan terus terbakar, karena sekam yang berada dibagian
luar mampu menahan air hujan untuk tidak masuk ke bagian dalam sekam.
Jadi tidak dibutuhkan atap untuk membakar sekam tersebut.
Biasanya petani membakar sekam untuk dijadikan abu yang
selanjutnya abu tersebut digunakan membuat tungku, proses pembakarannya
hampir sama, yaitu dengan cara ditumpuk. Perbedaannya terletak pada saat
memulai pembakarannya. Apa bila ingin membuat abu sekam maka proses
pembakaran dimulai dari bawah tumpukan, jadi buat terlebih dahulu bara
api, kemudian tumpuk dengan sekam kering, maka yang dihasilkan adalah
abu sekam. Dan pada proses pembuatan arang sekam proses pembakaran
dimulai dari atas tumpukan.
Untuk mengetahui berapa biaya yang dibutuhkan untuk membuat
arang sekam dan mencetak menjadi briket , maka perlu dihitung analisa
biaya yang dibutuhkan untuk membuatnya. Sehingga dapat diputuskan untuk
menggunakan briket arang sekam ini menjadi bahan bakar alternatif
pengganti minyak tanah, gas dan kayu api. Sehingga permasalahan tentang
mahalnya harga minyak tanah dan naiknya harga gas elpiji dapat
teratasi.
Menurut beberapa hasil percobaan panas yang dihasilkan oleh pembakaran
Sekam berkisar antara 2.937,3 – 3.341 kkal per kg sekam ( Ikatan
Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian IPB 1981 dalam Winarno, F.G. et
al:, 1985)
Menurut Aranlo, Dante De Padna dan Michael Graham (1976) menyatakan
bahwa nilai kalori sekam adalah 3000 kkal per kg sekam. Menurut
Sumangat (1978) dalam Winarno F.G. et al:, 1985), 1 kg sekam
menghasilkan panas 3200 kkal per kg sekam setara dengan setengah liter
minyak tanah.
Berikut analisa biaya pembuatan arang sekam dan briket :
A
|
Pembuatan arang sekam
|
Biaya (Rp)
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
Harga sekam kering (per 100 kg)
Rendemen arang sekam (50 %)
Upah tenaga kerja ( 1 x proses)
Harga arang sekam per kg
Biaya pembuatan arang sekam per kg
|
5000
50 kg
10.000
500
300
|
B
|
Pembuatan Briket Arang Sekam
|
Biaya (Rp)
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
Harga 1 kg arang sekam
Upah cetak briket per kg
Upah jemur briket per kg
Harga briket arang sekam per kg
Biaya pembuatan briket arang sekam per kg
|
500
500
150
2000
1150
|
Tabel 1. Analisa biaya pembuatan arang sekam dan briket arang sekam
Dari tabel diatas dapat dilihat biaya yang dibutuhkan untuk
membuat arang sekam adalah Rp 300,00 dan biaya untuk mencetak dan
menjemurnya adalah Rp650,00. Apabila petani mengerjakan sendiri
pembuatan arang sekam dan mencetak sendiri briket arang sekam maka
petani hanya memerlukan biaya untuk membeli sekam dengan harga Rp 5000
per kwintal.
Apabila tidak di cetak arang sekam akan tetap hidup, akan tetapi panas
yang dihasilkan tidak lama. Dan abu nya akan berterbangan. Sekam yang
digunakan untuk menjadi bahan baker pengganti kayu atau arang kayu ini
tidak mengasilkan asap dan bau. Sehingga kita dapat memasak dengan aman
dan nyaman.
Dengan tidak adanya limbah asap dan bau maka kita pun ikut menjaga
lingkungan dar asap yan g biasanya dihasilkan apabila menggunakan kayu
atau tempurung.
Selanjutnya kita lihat perbandingan konsumsi briket arang
sekam, gas, minyak tanah dan kayu api untuk mendidihkan air sebanyak 6
liter.
Berikut perbandingan biaya konsumsi elpiji, minyak tanah dan briket arang sekam untuk mendidihkan 6 liter air
Bahan Bakar
|
Waktu ( menit)
|
Massa Bahan
|
Harga Bahan
(Rp)
|
Biaya (Rp)
|
Gas
Minyak Tanah
Briket Arang Sekam
Kayu api
|
11
25
23
20
|
0,1 kg
140 ml
0,25 kg
3 kg
|
6500 / kg
10.000 / L
2000 / kg
500 / kg
|
650,-
1.400,-
500,-
1500,-
|
Tabel 2. Perbandingan konsumsi gas, minyak tanah, briket arang sekam dan kayu api
Dari tabel diatas dapat dilihat perbandingan konsumsi bahan bakar
briket arang sekam dan lainnya. Dimana untuk mendidihkan 6 liter air
dibutuhkan 0,25 kg briket dengan biaya Rp 500,-. Hampir tiga kali lipat
dibandingkan menggunakan minyak tanah. Dan akan lebih hemat lagi
apabila keluarga petani dapat memproduksi sendiri briket arang sekamnya.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dengan memanfaatkan sekam menjadi bahan bakar akan didapat beberapa keuntungan :
-
Menekan biaya pengeluaran untuk membeli bahan bakar bagi rumah tangga petani
-
Memanfaatkan limbah pertanian yang selama ini terbuang sebagai bahan bakar
-
Sebagai media tumbuh tanaman hortikultura khususnya tanaman hias
-
Memperoleh nilai tambah dari hasil samping padi
-
Menjaga kebersihan lingkungan dari limbah yang menumpuk
-
Menambah penghasilan petani, sehingga petani tidak saja mengharapkan
hasil dari padi saja tapi bisa mengolah sekam menjadi produk yang
bernilai ekonomis
-
Tidak mengasilkan asap dan bau. Sehingga kita dapat memasak dengan aman
Dan nyaman
Dari tehnik pembuatan arang sekam diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Lebih mudah membakar sekam tanpa menggunakan cerobong besi
karena tidak perlu dijaga sehingga lebih hemat waktu dan biaya
2. Pada saat menyiram sekam yang sudah menjadi arang harus benar-benar mati agar arang tidak menjadi abu
4.2 Saran
Perlu adanya kerja sama dari semua pihak agar mensosialisasikan
tentang tehnik pembuatan briket arang sekam. Dan memanfaatkn sekam
menjadi energi alternatf untuk menekan konsumsi minyak tanah, kayu dan
gas. Sehingga berbagai permasalah tentang tingginya harga minyak tanah ,
naikknya harga gas dan berkurangnya jumlah kayu bakar dapat diatasi.